Senin, 29 September 2014

Dosen Narotama Menjadi Asisten Dosen di Bristol University

 Dosen Narotama Menjadi Asisten Dosen di Bristol University

03 September 2014, 10:11:46

Ario Muhammad, ST, M.Sc.Eng, dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Narotama berhasil mendapatkan Beasiswa Pasca Sarjana Luar Negeri (BPPLN) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) untuk melanjutkan studi PhD (S3) di Bristol University – Inggris. Dia akan melanjutkan studi di jurusan Teknik Sipil dibawah bimbingan Katsuichiro Goda, PhD seorang senior lecturer di Civil Engineering Department, Bristol University.
“Saya memang berencana melanjutkan studi S3 saya di Eropa sejak menyelesaikan S2 di Taiwan dan mulai bertugas sebagai dosen di Universitas Narotama,” kata Ario Muhammad yang juga menulis buku Notes of 1000 days in Taiwan.
Sejak Oktober 2013, Ario mulai mencari berbagai beasiswa untuk bisa melanjutkan studi di Eropa. Sekitar 25 lamaran beasiswa S3 yang dimasukkannya ke kampus-kampus terkenal di Eropa seperti TU Delft – Belanda, maupun KU Leuven-Belgia. Pria berusia 27 tahun ini kemudian diterima di Bristol University untuk melanjutkan S3 di jurusan Teknik Sipil. Dia tercatat menjadi satu dari 42 orang dosen di seluruh Indonesia yang mendapatkan BPPLN DIKTI gelombang 2.
Ario memilih University of Bristol karena kecocokan dengan pembimbing Dr. Goda, salah satu ilmuan dalam bidang seismic hazard risk analysis terbaik di dunia. Pilihan tersebut rupanya mengantarkan Ario mendapatkan tawaran menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Civil Engineering Design and Computing bagi mahasiswa S1.
“Pengalaman sebagai dosen di Universitas Narotama tentu akan menjadi bekal yang cukup bagi saya untuk menunaikan amanah sebagai asisten dosen disana,” kata Ario yang akan memulai studinya 10 September 2014 mendatang. [ger]

Foto: Ario Muhammad, ST, M.Sc.Eng 

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3975835050352035468#editor/target=post;postID=8901765393379780306;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=0;src=link

http://narotama.ac.id

Minggu, 28 September 2014

Cara Belajar Ilmu Teknik Sipil



Belajar Ilmu teknik Sipil
Seperti yang telah dibahas sebelumnya pada Artikel Tentang Teknik Sipil, bahwa Ilmu sipil yaitu Ilmu yang mempelajari tentang bagimana Merancang,membangun dan merenovasi bangunan Konstruksi untuk kebutuhan manusia. untuk memperlajari Ilmu Teknik Sipil sama halnya dengan mepelajari Ilmu pengetahuan lain yaitu butuh ketekunan dan kemauan belajar yang besar. karena kemauan belajar yang besar akan membuat masalah yang kita temui dalam Mempelajari Ilmu Teknik Sipil kita anggap sebagai sebuah tantangan untuk kita.

Jika kita Mempelajari Ilmu Teknik Sipil sebagai seorang Mahasiswa maka tentu hal kita dituntut untuk mengetahui Ilmu tersebut karena nanti nantinya Ilmu Teknik Sipil yang kita pelajari Akan dipertanggungjawabkan kepada Masyrakata dalam bentuk kreatifitas kita untuk berkonstribusi terhadap permasalahan seputar Dunia Teknik Sipil.
Manajemen Waktu Pembelajaran Ilmu Teknik Sipil
Hampir semua bidang kehidupan waktu merpakan hal yang sangat penting untuk sebuah kesuksesan, jika waktu tidak dikelolah dengan baik maka akan mempersulit kita untuk kesuksesan. begitu halnya dengan Belajar Imu Teknik Sipil dalah hal ini kita sebagai Mahasiswa yang sementara Kuliah dengan Jurusan Ilmu Teknik Sipil. Karena begitu banyaknya Ilmu yang dipelajari di Teknik Sipil maka dibutuhkan Manajeman yang baik untuk mengelolah semua mata kuliah yang kita pelajari.
 
Tentukan target Belajar Ilmu Teknik Sipil
Belajar Teknik Sipil
Untuk Belajar ilmu Teknik Sipil kita harus memiliki Tujuan yang kita targetkan untuk bisa menguasai dan mengetahuinya.Impian meruapakan hal utama yang menjadi Priorotas. jika kita punya impian maka kita bisa dengan mudah mengatur mengatur langkah-langkah apa yang kita lakukan untuk meraihnya.

Langkah pertama setelah kita membuat daftar Impian yang ingin kita wujudkan dengan menentukan target kapan Impian itu bisa kita wujudkan. dalam hal ini di Contohkan kita menginginkan bahwa pada semester berjalan ini seluruh Mata Kuliah yang kita pelajari mendapatkan Nilai A dan dibarengi dengan Kualitas pengetahun yang kita dapatkan dengan Mata Kuliah tersebut. Maka kita harus mengetahui syarat-syarat yang harus diperlukan untuk mewujudkan itu. setelah mengetahui Syarat-syarat yang dibutuhkan maka kita harus membuat jadwal Belajar setiap mata Kuliah. jadwal yang dimaksudkan adalah bukan jadwal mata kuliah melainkan Jadwal belajar kita sendiri.

yang terpenting setelah kita mengatur jadwal Belajar setiap pada Kuliah adalah kekonsistenan kita dan tetap fokus untuk menjalankan apa yang sudah di jadwalkan. hal yang paling sulit adalah merubah kebiasaan lama kita. karena dengan mengatur jadwal seperti itu berarti sama halnya dengan m,erubah kebiasaan kita. karena waktu yang kita meiliki untuk berhura-hura pastinya sangat minim. disinilah letak kesuksesan tersebut. terkadang kita selalu merasa nyaman untuk berada di zona kenyamanan dan lingkungan juga sangat mempengaruhi kekonsistenan itu tetapi jika anda memiliki komitmen yang kuat maka semua itu bisa anda lewati untuk menuju apa yang menjadi tujuan anda.
Mengatur Folder Mata Kuliah di Komputer
Setelah membuat daftar Impian, mengatur Jadwal, dan belajar Konsisten dengan Jadwal yang kita buat, maka selanjutnya adalah Teknik manajemen file dari setiap mata Kuliah yang kita ambil dan sudah kita jadwalkan tersebut. caranya yaitu Buatlah Foldel Umum dengan nama Semester berjalan. setelah itu didalam Folder umum tersebut buatkanlah Folder-folder setiap mata Kuliah yang diprogramkan. dan setiap Folder Mata Kuliah juga dibuat Folder Inti yang berisi Folder Tugas Teknik Sipil, Folder Materi Kuliah, Folder presentasi, Folder Contoh-contoh soal Ujian, dan Folder refernsi.

Setiap Folder inti yang dibuat tersebut harus diisi sesuai file - file yang dibutukan. untuk itu anda harus mencari dan membuat file-file tersebut, maksud dari folder itu adalah untuk memudahkan anda untuk tetap fokus dan bisa mengukur kemampuan pengatahuan masali-masing mata kuliah semakin banyak file yang terisi di folder tersebut menunjukan seberapa besar yang sudah dipelajari.
Cara Mencari Referensi Ilmu Teknik Sipil
Setelah anda membuat Folder maka anda bisa mencari referensi atau file dari internet ataupun dari buku yang kemudian anta ketik. file yang di cari biar lebih sistematis maka harus berdasarkan Topik Kuliah yang sementara berjalan. setelah mengikuti proses kuliah Teknik Sipil dikampus dengan Topik tertentu, maka selanjutnya sesuai dengan jadwal yang anda susun carilah referensi berdasarkan topik tersebut. Jika ada tugas anda bisa membuat dengan menggunakan referensi yang dapatkan tersebut dan masukan file tugas di folder yang telah dibuat. semua file harus dimasukan pada foldernya. kemudian setiap topik anda buatkan Soal-soal tambahan dilengkapi dengan jawaban yang anda cari melalui referensi yang didapatkan.

Sekedar tambahan referensi yang anda cari bisa berupa Artikel Teknik Sipil, Jurnal Teknik Sipil, Skripsi Teknik Sipil, dan Makalah Teknik sipil. Filenya bisa berbentuk PDF, Word, Power point. cara mencarinya pertama-tama anda mengetik di Search enggine dengan keyword " free search enggine PDF/word/power point". setelah itu bukalah salah satu search enggine yang dimaksud. dan masukan kata kunci referensi yang mau dicari itu.
Download Ebook Gratis Teknik Sipil melalui Internet
Selain yang dibahas diatas maka langkah selanjutnya anda juga bisa mendownload Ebook Teknik Sipil Gratis yang telah disediakan disitus-situs Teknik Sipil di Internet sebagai referensi untuk di Folder anda. untuk mengetahui cara mendapatkan Buku Teknik Sipil dalam bentuk Ebook Teknik Sipil maka anda bisa membaca tulisan Tentang BUKU TEKNIK SIPIL diblog Kampus-sipil ini.
Mengikuti Kursus Software yang sering dipakai dalam  Ilmu Teknik Sipil.
Di Dalam Ilmu Teknik Sipil ada banyak hal yang tidak dipelajari secara spesifik di ruang perkuliahan, misalnya yang berhubungan dengan penggunaan Software Teknik Sipil. nah untuk lebih memperdalam pengetahuan anda di Bidang Ilmu teknik sipil, maka sebaiknya anda mencari tempat kursus Ilmu Teknik Sipil untuk belajar disitu. biasanya penggunaan Software Teknik Sipil yang dipalajari melalui kursus diantaranya adalah Kursus Tentang SAP2000, Kursus Software Etabs, Kursus AutoCAD, Kursus SketChup, Dsb.

Demikianlah Tulisan tentang Belajar Ilmu Teknik Sipil. cara-cara tersebut merupakan cara yang saya lakukan untuk mempelajari Ilmu Teknik Sipil. karena sebelumnya banyak waktu yang terbuang sia-sia makanya dengan cara Manajemen Pembelajaran Ilmu Teknik Sipil ini diharapkan kita bisa merubah kebiasaan - kebiasaan lama. menggantikannya dengan cara baru yang terjadwalkan, sistematis dan bisa digunakan dengan sebagai bahan evalasi penguasaan Ilmu Teknik Sipil anda.

-http://www.budiwitjaksana.com/p/v-behaviorurldefaultvmlo.html
-http://narotama.ac.id

Kamis, 20 Februari 2014

cara menghitung plat

MENGGAMBAR RENCANA PELAT LANTAI BANGUNAN بسم الله الرحمن الرحيم Dalam penggambaran konstruksi beton untuk keperluan pelaksanaan pembangunan gedung sangat berperan. Untuk itu perlu dikuasai oleh seseorang yang berkecimpung dalam pelaksanaan pembangunan. Gambar konstruksi beton bertulang merupakan komponen dalam bangunan yang tidak dapat dipisahkan dengan komponen lainnya karena merupakan salah satu subsistem dalam bangunan. Dalam penggambaran kadang-kadang tidak sesuai dengan keadaan lapangan. Untuk itu dalam penggambaran harus sesuai dengan perencanaan, tetapi dalam pelaksanaan jangan sampai menyimpang terlalu jauh karena dapat mengakibatkan fatal atau kegagalan dalam konstruksi. Pada materi gambar konstruksi beton ini akan menjelaskan tentang simbol yang dipakai, aturan, atau persyaratan dasar dalam konstruksi beton bertulang. Dengan adanya materi ini diharapkan dapat menjelaskan kepada orang lain bagaimana menggambar konstruksi beton yang benar tidak menyalahi aturan yang berlaku. Dalam materi ini diawali dengan simbol-simbol, pembengkokan tulangan, persyaratan konstruksi beton bertulang untuk pelat dan balok, penggambaran konstruksi beton bertulang sesuai perhitungan konstruksi. 10.1 Simbol Konstruksi Beton Bertulang Agar dalam penggambaran konstruksi beton bertulang dapat jelas dalam pembacaannya, maka perlu ada tanda atau simbol penunjang dalam penggambaran sehingga siapapun penggunanya dapat menterjemahkan gambar tersebut untuk diri sendiri maupun kepada orang lain. Ataupun pengertian gambar antara satu dengan lainnya sama. Simbol/Tanda-Tanda dan Keterangan dalam Konstruksi Beton Bertulang Tabel 10.1 10.2 Menggambar Denah Rencana Penulangan Pelat Lantai Gambar 10.1 Denah Penulangan Pelat Luifel Ditentukan : – Pelat luifel (lihat gambar di atas) – Luas tulangan yang diperlukan A = 5,35 cm2 Diminta: – Gambarkan penulangannya dengan skala 1 : 25! – Hitung tonase tulangan yang diperlukan! – Hitung kubikasi/volume beton yang diperlukan! Gambar 10.2 Denah Penulangan Pelat Atap Satu Petak Ditentukan: – Pelat atap satu petak (lihat gambar di atas) – Luas tulangan lapangan b sejajar lebat pelat = A lb = 5,82 cm2 – Luas tulangan lapangan l sejajar panjang pelat = A ll = 3,30 cm2 – Luas tulangan tumpuan b sejajar lebat pelat = A tb = 7,05 cm2 – Luas tulangan tumpuan l sejajar panjang pelat = A tl = 6,20 cm2 Diminta: – Gambarkan penulangannya dengan skala 1 : 25! – Hitung tonase tulangan yang diperlukan! – Hitung kubikasi/volume beton yang diperlukan! Gambar 10.3 Denah Penulangan Pelat Lantai Ditentukan: – Pelat lantai satu petak (lihat gambar di atas) – Luas tulangan lapangan b sejajar lebat pelat = A lb = A lx = +6,82 cm2 – Luas tulangan lapangan l sejajar panjang pelat = A ll = A ly = +4,74 cm2 – Luas tulangan tumpuan b sejajar lebat pelat = A tb = A tx = –8,16 cm2 – Luas tulangan tumpuan l sejajar panjang pelat = A tl = A ty = –5,89 cm2 Diminta: – Gambarkan penulangannya dengan skala 1 : 25! – Hitung tonase tulangan yang diperlukan! – Hitung kubikasi/volume beton yang diperlukan! Catatan: Tulangan pokok yang dipasang hanya boleh menggunakan besi tulangan diameter 8 mm dan 10 mm. Gambar 10.4 Penulangan Pelat Lantai Lebih dari Satu Petak Ditentukan: Pelat lantai lebih dari satu petak (lihat gambar di atas) – Pelat (a) : A lx = +5,42 cm2 A ly = +2,42 cm2 A tx = –6,28 cm2 A ty = –3,59 cm2 – Pelat (b) : A lx = +2,82 cm2 A ly = +2,62 cm2 A tx = –3,52 cm2 A ty = –3,14 cm2 – Pelat (c) : A t = 5,82 cm2 Diminta: – Gambarkanlah penulangan pelat lantai tersebut di atas dengan skala 1 : 50! – Hitunglah kebutuhan baja/besi beton bertulang dan kubikasi beton! 10.3 Menggambar Detail Potongan Pelat Lantai Agar dalam penggambaran konstruksi beton bertulang untuk pelat luifel, atap dan lantai sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan perlu memahami ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam konstruksi beton bertulang. Jenis Tulangan Tulangan-tulangan yang terdapat pada konstruksi pelat beton bertulang adalah: 1) Tulangan pokok a. Tulangan pokok primer, ialah tulangan yang dipasang sejajar (//) dengan sisi pelat arah lebar (sisi pendek) dan dipasang mendekati sisi luar beton. b. Tulangan pokok sekunder, ialah tulangan yang dipasang sejajar (//) dengan sisi pelat arah panjang dan letaknya di bagian dalam setelah tulangan pokok primer. 2) Tulangan susut ialah tulangan yang dipasang untuk melawan penyusutan/ pemuaian dan pemasangannya berhadapan dan tegak lurus dengan tulangan pokok dengan jarak dari pusat ke pusat tulangan susut maksimal 40 cm. 3) Tulangan pembagi ialah tulangan yang dipasang pada pelat yang mempunyai satu macam tulangan pokok, dan pemasangannya tegak lurus dengan tulangan pokok. Besar tulangan pembagi 20% dari tulangan pokok dan jarak pemasangan dari pusat ke pusat tulangan pembagi maksimum 25 cm atau tiap bentang 1 meter 4 batang. Pemasangan tulangan pembagi biasanya terdapat pada konstruksi pelat luifel/atap/lantai dan dinding. Tulangan pembagi berguna: – Menahan tulangan pokok supaya tetap pada tempatnya – Meratakan pembagian beban – Mencegah penyusutan konstruksi Pemasangan Tulangan Ketentuan pada tulangan pokok pelat gambar 10.5 tulangan Pokok Pelat Keterangan: T = Tebal pelat t = Jarak bersih pemasangan tulangan �� = 2,5cm �� minimal 2,5 cm �� = 2 T �� = 20 cm a = Selimut beton a = 1,5 cm, bilamana berhubungan dengan air laut atau asam ditambah 1 cm Apabila momen yang bekerja kecil, maka jarak tulangan pokok dari pusat ke pusat maksimal 40 cm. Untuk segala hal tulangan pelat tidak boleh kurang dari 0,25% dari luas penampang beton (untuk keperluan tulangan pokok, pembagi, dan susut). Tebal Pelat Pelat atap = 7 cm �� minimal 7 cm Pelat lantai = 12 cm �� minimal 12 cm Diameter Tulangan Pelat Baja lunak �� tulangan pokok = Ø 8 mm dan tulangan pembagi Ø 6 mm Baja keras �� tulangan pokok = Ø 5 mm dan tulangan pembagi Ø 4mm Pada pelat yang tebalnya lebih dari 25 cm, penulangan pada setiap tempat harus dipasang rangkap (dobel) dan ini tidak berlaku pada pondasi telapak. Dinding Untuk konstruksi dinding, yang perlu mendapatkan perhatian adalah tebal dari dinding vertikal (T) adalah: �� T = 1/ 30 bentang bersih �� Apabila menerima lenturan (M lentur) T = 12 cm �� minimal 12 cm �� Apabila tidak menerima lentur T = 10 cm �� minimal 10 cm �� Untuk dinding luar di bawah tanah tebalnya = 20 cm �� tebal minimal 20 cm Penulangan dinding untuk reservoir air dan dinding bawah tanah: �� Tebal dinding (T) 30 cm < T = 12 cm �� Penulangan senantiasa dibuat rangkap �� Penulangan dinding yang horizontal dan untuk memikul susut serat perubahan suhu minimal 20% F beton yang ada Contoh: Tebal dinding 12 cm. Penulangan yang dibutuhkan setiap 1 m2 = 0,25 x 12 cm2 = 3 cm2 �� Diameter tulangan pokok minimal Ø 8 mm dan tulangan pembagi minimal Ø 6 mm �� Apabila terdapat lubang pada dinding, maka harus dipasang minimal 2 Ø 16 mm dan diteruskan paling sedikit 60 cm melalui sudut-sudut lubang Gambar 10.6 Penulangan Dinding Reservoir Air dan Dinding Bawah Tanah Sistem konstruksi pada tepi pelat: �� Terletak bebas �� Terjepit penuh �� Terjepit elastis Konstruksi Terletak Bebas Apabila tepi pelat itu ditumpu di atas suatu tumpuan yang dapat berputar (tidak dapat menerima momen), misalnya pelat tersebut terletak di atas dinding tembok. Gambar 10.7 Konstruksi Terletak Bebas Konstruksi Terjepit Penuh Apabila tepi pelat terletak di atas tumpuan yang tidak dapat berputar akibat beban yang bekerja pada pelat tersebut, misalnya pelat tersebut menjadi satu kesatuan monolit dengan balok penahannya. Gambar 10.8 Konstruksi Terjepit Penuh Konstruksi Terjepit Elastis Apabila tepi pelat terletak di atas tumpuan yang merupakan kesatuan monolit dengan balok pemikulnya yang relatif tidak terlalu kaku dan memungkinkan pelat dapat berputar pada tumpuannya. Pemasangan Tulangan Pemasangan tulangan pelat yang dipasang pada empat sisi: 1) Pemasangan tulangan untuk memikul momen lapangan dalam arah yang // dengan tepi pelat dapat dikurangi sampai setengahnya. 2) Setiap sudut pelat yang ditumpu bebas, harus dipasang tulanganatas dan bawah dalam kedua arah. Ini akan berguna untuk menahan momenmomen puntir. Jumlah tulangan untuk kedua arah harus diambil sama dengan jumlah tulangan yang terbesar, dan daerah pemasangannya = 1/5 bentang pelat. Contoh: Al = 2,96 cm2 �� Ø 8–17 Ab = 3,59 cm2 �� Ø 8–14 Maka tulangan disudut pelat tersebut, untuk atas dan bawah harus dipasang dalam ke dua arah yaitu Ø 8–14. Gambar 10.9 Pemasangan Tulangan pada Empat Sisi 3) Pada pelat-pelat, apabila l / b atau ly / lx > 2,5 a) Untuk pelat satu petak �� Pada arah ly harus dipasang tulangan dengan besar momen (M ly) = 1/5 Momen lx atau = 0,2 M lx �� Pada tumpuan jarak ly juga harus dipasang tulangan dengan besarnya Momen (M ty) = 0,6 M lx dan bagian yang dipasang tulangan harus = 1/5 l x Gambar 10.10 Pemasangan Tulangan untuk Pelat Satu Petak Catatan: l y = sisi pelat yang panjang l x = sisi pelat yang pendek b) Untuk pelat menerus (lebih sari satu petak) dimana l y / l x > 2,5 Untuk pelat yang terjepit atau menerus dipasang tulangan tumpuan negatif yaitu M ty = –0,3 M lx Pelat terletak bebas, dipasang minimal 1/5 lx atau 0,2 lx dan pada sisi pendek harus juga dipasang tulangan tumpuan positif sebesar (M ty) M ty = + 0,3 M lx dan tulangan dipasang panjang minimal ½ lx Gambar 10.11 Pemasangan Tulangan untuk Pelat Menerus c) Untuk pelat yang dipikul hanya 2 sisi yang sejajar �� Dianggap dengan perbandingan ly/lx > 2,5 dan hanya ada tulangan pokok �� M ly = Momen lapangan // lebar pelat �� M tx = Momen tumpuan // lebar pelat Memilih Besi Beton Untuk menentukan atau memilih diameter tulangan pada konstruksi beton bertulang setelah besaran atau luas tulangan hasil perhitungan didapatkan untuk keperluan penggambaran harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut. – Daftar konstruksi beton bertulang i. Luas penampang tulangan besi beton dalam cm2 untuk setiap lebar pelat 100 cm ii. Garis tengah tulangan besi beton dalam mm, berat dalam kg/m dan luas penampang baja bulat dalam cm2 iii. Garis tengah tulangan besi beton dalam mm, berat dalam kg/m, luas penampang baja bulat dalam cm2 serta minimal lebar balok atau kolom dalam cm dengan ketebalan penutup balok tertentu dan diameter sengkang – Ketentuan jarak minimal dan maksimal tulangan yang boleh dipasang – Ketentuan jumlah minimal yang harus dipasang – Ketentuan besarnya diameter minimal untuk suatu konstruksi – Pilih diameter besi beton yang beredar dalam pasaran atau perdagangan Memilih Besi Beton untuk Pelat – Tulangan terdiri dari tulangan tumpuan dan lapangan. – Teknik pemasangan ada yang lurus saja untuk kepraktisan dan kecepatan dalam pemasangan. Tetapi ada pula yang pemasangannya dibengkokkan pada ¼ bentang untuk daerah tumpuan dan lapangan, agar lebih hemat karena sesuai dengan fungsinya. Dan dalam perhitungan atau memilih tulangan lapangan dibagi 2 karena jalur pemasangan dibuat bergantian. – Tulangan lapangan dipilih terlebih dahulu dengan melihat daftar apakah luasnya sudah memenuhi sesuai dengan perhitungan, setelah itu baru menetapkan jarak tulangan. Ingat, jangan lupa minimal dan maksimal jarak tulangan serta minimal diameter tulangan yang boleh digunakan. – Kekurangan luas pada tumpuan dicari lagi besarannya dalam daftar sehingga luas tumpuan terpenuhi. Panjang tulangan tumpuan biasanya ¼ bentang pelat. Pada tulangan tumpuan perlu besi beton pengait atau tulangan pembagi dengan diameter Ø 8–20 – Penulangan pelat atap pemasangannya sama dengan pelat lantai hanya saja perlu tulangan susut dengan tulangan diameter 6 mm jarak 40 cm (Ø 6–40). Pemasangan tulangan susut diharapkan tidak terjadi retak-retak karena perubahan cuaca. – Untuk pelat luifel terdiri dari tulangan pokok dan pembagi serta bilamana perlu diberikan juga tulangan susut yang menyilang terletak di bawah dengan diameter 6 mm jarak 40 cm (Ø 6–40). Contoh Penggambaran Penulangan Pelat Luifel. Gambar 10.12 Penulangan Pelat Luifel Untuk pelat luifel sebuah bangunan kantor lihat gambar dibutuhkan tulangan A = 5,31 cm2. Gambarlah rangkaian penulangan luifel tersebut dengan mutu beton K 125 dan baja U22! Penyelesaian: A = 5,31 cm2 �� dipilih Ø 10–14 = 5,61 cm2 > 5,31 cm2 �� (OK) Tulangan pembagi = 20% x 5,61 = 1,12 cm2 �� dipilih Ø6–25 = 1,13 > 1,12 cm2 (OK) Contoh Penggambaran Penulangan Pelat Lantai: Gambar 10.13 Penulangan Pelat Lantai Suatu pelat lantai satu petak dibutuhkan tulangan seluas : Alx = 3,37 cm2; Aly = 2,37 cm ; Atx = 7,05 cm2 ; Aty = 5,00 cm2 Gambarkan penulangan pelat tersebut jika mutu bahan, beton : K175 dan baja : U22 Alx = 3,37 cm2 �� dipilih Ø 8–14,5 = 3,47 cm2 > 3,37 cm2 ��(OK) Masuk tumpuan Atx = 3,47/2 = 1,73 cm2 �� Ø 8– 29 Tulang tumpuan tambahan Atx = 7,05 – 1,73 = 5,32 cm2 �� dipilih Ø 10–14,5 = 5,42 cm2 > 5,32 cm2 �� (OK) Jadi, jumlah tumpuan Atx yang dipasang = 1,73 + 5,42 = 7,15 > 7,05 cm2 Tulangan pembagi yang dibutuhkan = 20% x 7,15 = 1,43 cm2 ��dipilih Ø 6–15 = 1,89 cm2 > 1,43 cm2 �� (OK) Aly = 2,37 cm2 �� dipilih Ø 8–20 = 2,51 cm2 > 2,37 cm2 �� (OK) Masuk tumpuan Aty = 2,51/2 = 1,25 cm2 �� Ø 8–40 Tulang tumpuan tambahan Atx = 5,00–1,25 = 3,75 cm2 �� dipilih Ø 10–20 = 3,93 cm2 > 3,75 cm2 ��(OK) Jadi jumlah tumpuan Aty yang dipasang = 1,25 + 3,93 = 5,18 > 5,00 cm2 Tulangan pembagi yang dibutuhkan = 20% x 5,18 = 1,04 cm2 ��dipilih Ø 6–14,5 = 1,95 cm2 > 1,04 cm2 �� (OK) Tulangan susut tidak perlu dipasang karena selalu terlindung. Contoh Penggambaran Penulangan Pelat Atap Gambar 10.14 Pelat atap satu petak dibutuhkan tulangan seluas : Alx = 3,36 cm2 ; Aly = 1,89 cm ; Atx = 6,83 cm2 ; Aty = 4,63 cm2 Gambarkan penulangan pelat tersebut jika mutu bahan, beton : K125 dan baja : U24 Alx = 3,36 cm2 �� dipilih Ø 8–14,5 = 3,47 cm2 > 3,36 cm2 ��(OK) Masuk tumpuan Atx = 3,47/2 = 1,73 cm2 �� Ø 8–29 Tulang tumpuan tambahan Atx = 6,83 – 1,73 = 5,10 cm2 �� dipilih Ø 10–14,5 = 5,42 cm2 > 5,10 cm2 �� (OK) Jumlah tumpuan Atx yang dipasang = 1,73 + 5,42 = 7,15 > 6,83 cm2 Aly = 1,89 cm2 �� dipilih Ø 8–20 = 2,51 cm2 > 1,89 cm2 �� (OK) Masuk tumpuan Aty = 2,51/2 = 1,25 cm2 �� Ø 8–40 Tulang tumpuan tambahan Atx = 4,63 – 1,25 = 3,38 cm2 �� dipilih Ø 10–20 = 3,93 cm2 > 3,38 cm2 �� (OK) Jadi jumlah tumpuan Aty yang dipasang = 1,25 + 3,93 = 5,18 > 4,63 cm2 �� OK Tulangan pembagi yang dibutuhkan untuk tumpuan Atx = 20% x 7,15 = 1,43 cm2 �� dipilih Ø 6–15 = 1,89 cm2 > 1,43 cm2 Untuk tumpuan Aty = 20 % x 5,18 = 1,04 cm2 �� Ø 6–14,5 = 1,95 cm2 > 1,04 cm2 Tulangan susut perlu dipasang karena pelat atap tidak terlindung dari perubahan-perubahan. Contoh Penggambaran Penulangan Pelat Atap dan Luifel Gambar 10.15 Penulangan Pelat Atap dan Luifel Sebuah rumah jaga dengan atap pelat datar dari beton bertulang. Luas tulangan Alx = 3,66 cm2 Aly = 4,45 cm2 Atx = 9,00 cm2 Aty = 6,79 cm2 Luifel A = 5, 30 cm2 Untuk menjaga puntiran maka setiap sudut pelat dipasang tulangan dengan luas = 5,30 cm2 Alx = 3,66 cm2 �� dipilih Ø 10–20 = 3,93 cm2 > 3,66 cm2 �� (OK) Masuk tumpuan Atx = 3,93/2 = 1,96 cm2 �� Ø 10–40 Tulang tumpuan tambahan Atx = 9,00 – 1,96 = 7,04 cm2 �� dipilih Ø 10–10 = 7,85 cm2 > 7,04 cm2 �� (OK) Jumlah tumpuan Atx yang dipasang = 1,96 + 7,85 = 9,81 > 9,00 cm2 VW = 1/5 x 9,81 = 1,96 cm2 �� Ø 6–14 = 2,02 cm2 > 1,96 cm2�� OK Aly = 3,45 cm2 �� dipilih Ø 8–14 = 3,59 cm2 > 3,45 cm2 �� (OK) Masuk tumpuan Aty = 3,59/2 = 1,79 cm2 �� Ø 8–28 Tulang tumpuan tambahan Atx = 6,79 – 1,79 = 5,00 cm2 �� dipilih Ø 10–14 = 5,61 cm2 > 5,00 cm2 �� (OK) Jadi jumlah tumpuan Aty yang dipasang = 1,79 + 5,61 = 7,40 > 6,79 cm2 �� OK VW = 1/5 x 7,40 = 1,48 cm2 �� Ø 6–15 = 1,89 cm2 > 1,48 cm2�� OK Luifel A = 5,30 cm2 �� Ø 10–10 // lx Ø 10–14 // ly Contoh Penggambaran Penulangan Pelat Atap Lebih dari Satu Petak gambar 10.16 Penulangan Pelat Atap Lebih dari Satu Petak Pelat (a) Atx = 2.77 cm2 �� Ø 8–13 = 2,87 cm2 > 2,77 cm2 Aty = 2.90 cm2 �� Ø 8–17 = 2,96 cm2 > 2,90 cm2 Alx = 1.90 cm2 �� Ø 8–20 = 2,57 cm2 > 1,90 cm2 Aly = 1,66 cm2 �� Ø 8–20 = 2,57 cm2 > 1,66 cm2 Pelat (b) Atx = 4.16 cm2 �� Ø 8–12 = 4,19 cm2 > 4,16 cm2 Aty = 2.90 cm2 �� Ø 8–17 = 2,96 cm2 > 2,90 cm2 Alx = 1,90 cm2 �� Ø 8–20 = 2,51 cm2 > 1,90 cm2 Ay = 1.66 cm2 �� Ø 8–20 = 2,51 cm2 > 1,66 cm2 Pelat Luifel (c) : 3,25 cm2 �� Ø 8–12 = 3,87 cm2 > 3,28 cm2 // Atx Ø 8–7 dan Ø 8–68 = 2,70 > 3,28 cm2 // Aty Latihan 1. Terangkan dengan singkat apa arti simbol: – a, b, c, …..dan seterusnya – 3 Ø 14 – Ø 12–18 – v w Ø 8–20 2. Berapa tebal minimal untuk pelat atap dan lantai? 3. Sebutkan macam-macam tulangan yang dipasang pada pelat atap! 4. Berapa jarak atau panjang daerah tulangan tumpuan pada pelat? 5. Pelat luifel dibutuhkan tulangan seluas A = 6,94 cm2. Hitunglah luas tulangan pembagi yang diperlukan dan tentukan diameter yang dipilih! 6. Sebuah pelat lantai membutuhkan tulangan A lx = 3,08 cm2 dan A tx = 6,22 cm2, jika tulangan untuk lapangan dipilih diameter 8 mm, tentukan tulangan tambahan untuk tulangan tumpuannya! • Beranda • Jasa Gambar • On Facebook • Hubungi Kami • Blogger ! Selamat Datang di maygunrifanto.blogspot.com Menyajikan Metode kerja Bangunan- Gambar kerja (Shop Drawing)- Menerima Pesanan Gambar Kamis, 02 Juni 2011 Standart Detail Pekerjaan Konstruksi Beton (Plat) 2.1. DETAIL PENULANGAN PELAT DENGAN TULANGAN BIASA 2.2. DETAIL PENULANGAN PELAT DENGAN TULANGAN WIREMESH 2.3. DETAIL PENULANGAN TANGGA PELAT 2.4. DETAIL PENJANGKARAN PENULANGAN PELAT UNTUK TULANGAN BIASA 2.5. DETAIL PENJANGKARAN PENULANGAN PELAT UNTUK TULANGAN WIREMESH 2.6. DETAIL PENULANGAN PELAT UNTUK ELEVASI BERBEDA DENGAN TULANGAN BIASA UNTUK t < h 2.7. DETAIL PENULANGAN PELAT UNTUK ELEVASI BERBEDA UNTUK TULANGAN WIREMESH UNTUK t < h 2.8. DETAIL PENULANGAN PELAT PADA DAERAH LUBANG • BERLAKU UNTUK LUBANG YANG LUASNYA 0.3 M DAN PANJANG MAKSIMUM 60 CM • a = D13 ATAU TULANGAN PELAT, YANG MANA LEBIH BESAR ANTARA TULANGAN ATAS DAN BAWAH • JIKA b < 100 mm, TULANGAN DIBENGKOKKAN SEPERTI TAMPAK DALAM GAMBAR 2.9. DETAIL PENULANGAN PADA PERTEMUAN PELAT DAN DINDING